Headline Ads Banner

LAM-PTKes

sekretariat@lamptkes.org
+62 21 2765 3495/96, +62 811-9173-306
+62 21 769 0913
Jalan Sekolah Duta 1 No.62 Rt.003 Rw.014
  Kel. Pondok Pinang, Kec. Kebayoran Lama
  Jakarta Selatan, 12310
Jam Kerja Kantor Senin s.d Jumat
  Pukul 09:00 - 17:00 WIB
  Jam Istirahat Kantor
  Pukul 12.00 - 13.00 WIB

Lembaga Akreditasi Mandiri
Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia

Orientasi Strategis LAM-PTKes

Visi LAM-PTKes

"Terjaminnya mutu pendidikan tinggi kesehatan yang berstandar global"

Misi LAM-PTKes

"Terselenggaranya akreditasi nasional pendidikan tinggi kesehatan secara berkelanjutan yang dipercaya oleh semua pemangku kepentingan (sustainable dan credible)"

Tujuan LAM-PTKes

Tujuan LAM-PTKes bersifat SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant dan Time Bound) yaitu :

  1. Tersusunnya kebijakan, standar, instrumen dan prosedur akreditasi pendidikan tinggi kesehatan yang dioperasionalkan oleh LAM-PTKes (Specific).
    1. Pengembangan instrumen spesifik untuk setiap program studi yang mencakup aspek tridharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
    2. Setiap aspek akan dijabarkan ke dalam 10 standar pendidikan tinggi, yaitu:
    3. Setiap standar akan dijabarkan ke dalam parameter penilaian yang dirumuskan ke dalam butir-butir penilaian.
    4. Standar dan parameter penilaian dituangkan dalam instrumen yang disebut borang.
    5. Borang digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data/informasi dari program studi tersebut.
    6. Atas dasar data dan informasi dari borang tersebut kemudian ditentukan status akreditasi program studi dan peringkat akreditasinya.
  2. Meningkatnya mutu program studi yang diakreditasi oleh LAM-PTKes berdasarkan indikator antara lain berupa uji kompetensi dan Tracer Study (Measurable).
  3. Terpadunya akreditasi pendidikan akademik, vokasi, dan profesi yang saling mendukung peningkatan keterampilan tenaga kesehatan secara keseluruhan melalui instrumen-instrumen yang sinkron (Achievable).
  4. Terwujudnya lulusan dari program studi yang telah terakreditasi oleh LAM-PTKes yang mampu melaksanakan praktik pelayanan kesehatan dengan kompetensi sesuai standar dan kebutuhan masyarakat (Relevant).
  5. Terwujudnya kemampuan LAM-PTKes untuk membiayai kegiatan operasionalnya sendiri sejak tahun 2015 (Time Bound).

Tata Nilai LAM-PTKes Terdiri Atas:

  1. Nilai Dasar: Amanah dan Mandiri
  2. Nilai Operasional
Dalam rangka mewujudkan Visi dan Misinya berlandaskan pada Nilai Dasarnya, LAM-PTKes menganut 5 Prinsip Operasional sebagai berikut:
  1. Continuous Quality Improvement (CQI)
  2. Quality Cascade
  3. Conceptualization – Production – Usability (CPU)
  4. Trustworthy
  5. Pendidikan Interprofesional sebagai Landasan Kolaborasi Interprofesional (Interprofessionalism)

  1. Continuous Quality Improvement (CQI)

    Nilai Operasional ini merupakan komitmen untuk meningkatkan kinerja program studi. Agar mutu menjadi budaya pada program studi, maka diperlukan komitmen berupa Continuous Quality Improvementpada Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPM-Dikti) terdiri atas Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME). SPMI dikembangkan oleh perguruan tinggidan program studi, sedangkan SPME dikembangkan oleh BAN-PT dan LAM melalui akreditasi perguruan tinggi dan program studi.

    Proses penilaian secara formatif dengan penguatan pada pendampingan oleh fasilitator diharapkan dapat memberikan pembelajaran kepada program studi dalam menerapkan budaya mutu, serta memperkuat implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)sebagaimana terlihat pada Gambar 1 di bawah.

    Gambar 1: Continuous Quality Improvement pada Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan

  2. Quality Cascade

    Nilai Operasional ini menuntut keterkaitan antara kualitas pendidikan tinggi kesehatan dengan kualitas pelayanan di masyarakat. Sistem Akreditasi merupakan mata rantai yang tidak terpisahkan dalam rangkaian penjagaan kualitas sampai kepada kesehatan masyarakatyang berkualitassebagaimana terlihat pada Gambar 2 di bawah. Kegagalan dalam menjaga kualitas pada satu tahap /mata rantai, akan menyebabkan kegagalan dalam upaya mencapai kualitas pelayanan kesehatan yang berkualitas.

    Gambar 2: Quality Cascade

    Akreditasiadalah penjaminan mutu eksternal yang merupakan bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPMPT). Hasil dari akreditasi diharapkan dapat meningkatkan mutu program studi. Peningkatanmutu program studi yang diakreditasi oleh LAM-PTKes dapat dilihat melalui indikator antara lain berupa hasil uji kompetensi lulusan program studi sebagai bagian dari sistem sertifikasi tenaga kesehatan.

    Hasil tersebut di atas hanya dapat dicapai melalui kontribusi program studi terhadap lulusan yang berkualitas melalui sistem pembelajaranyang bermutu di kelas, laboratorium, dan lapangan. Lulusan dari program studi yang berkualitas akan mampu meningkatkanketerampilannya melalui pengembangan profesional berkelanjutan demi tercapainya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Jadi, peningkatan mutu pendidikan tinggi kesehatan yang berkelanjutan diharapkan dapat mendorong peningkatan hasil akhir (outcome) kesehatan masyarakat.

  3. CONCEPTUALIZATION - PRODUCTION – USABILITY (CPU)

    Nilai Operasional ini menuntut kesinambungan pemetaan jenjang karir tenaga kesehatan sejak mulai dari tahap pendidikannya, penempatannyasampai dengan pengembangan profesional berkelanjutannya sebagaimana terlihat di bawah ini.

    Standar Akreditasi Menggunakan Model CPU
    (Conceptualization - Production - Usability)

    Conceptualization: merupakan konsep profesi kesehatan yang dibutuhkan dan konsep sistem pelayanan kesehatan yang akan memanfaatkannya.

    1. Acuan
      1.1Nilai-nilai : mengacu kepada nilai-nilai mutu, keadilan, relevansi dan efektifitas
      1.2Masyarakat : mengacu kepada ciri-ciri dan prioritas kebutuhan kesehatannya
      1.3Sistem Kesehatan : mengacu kepada perkembangan sistem kesehatan setempat agar terpadu
      1.4Tenaga Kesehatan : mengacu kepada kebutuhan kualitatif dan kuantitatif (lihat 1.1, 1.2, 1.3)
    2. Kegiatan
      2.1Mandat / amanat : Misi dan Tujuan prodi konsisten dengan Acuan (lihat 1)
      2.2Ruang Lingkup : terlibat dalam pengelolaan kesehatan pada wilayah dan masyarakat tertentu
      2.3Kemitraan : kemitraan dengan pemangku kepentingan utama di tingkat lokal dan nasional
      2.4Luaran yang diharapkan : definisi / justifikasi profil kompetensi lulusan (lihat Acuan)
    3. Tata Kelola
      3.1Rencana Strategis: meliputi kegiatan dalam rencana pengembangan yang sudah disepakati
      3.2Manajemen: validasi, koordinasi dan evaluasi terhadap pelaksanaan dari rencana
      3.3Sumber Daya: Mobilisasi sumber daya internal dan eksternal sesuai dengan Kegiatan (lihat 2)
    Production: adalah pembelajaran oleh mahasiswa dan pendidikan yang diterimanya.
    1. Ruang Lingkup: pendidikan, penelitian dan pelayanan yang konsisten dengan Kegiatan (lihat 2)
    2. Program Pendidikan
      5.1Tujuan dan substansi : konsisten dengan profil tenaga profesional kesehatan (lihat 2.4)
      5.2Struktur Kurikulum : pemaparan sejakdini dan berkelanjutan kepada isu-isu kesehatan di komunitas
      5.3Proses Pembelajaran : mengatasi persoalan kesehatan yang kompleks pada individu dan komunitas
      5.4Wahana Praktek : utamanya fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang berhubungan dengan tingkat pelayanan kesehatan lainnya
    3. Mahasiswa
      6.1Penerimaan : kesempatan yang adil-merata dengan prioritas calon mahasiswa dari komunitas yang kurang mendapat pelayanan publik
      6.2Pengembangan Karir : mengarahkan dan membantu lulusan untuk memperoleh pekerjaan yang berkaitan dengan isu kesehatan prioritas
      6.3Evaluasi : mengacu kepada definisi / justifikasi profil kompetensi lulusan (lihat 2.4)
    4. Dosen
      7.1Asal : beragam dari sektor kesehatan dan sosial
      7.2Kemampuan : berperan sebagai teladanmengacu kepada profil kompetensi lulusan (lihat 2.4)
      7.3Dukungan yang diberikan : pelatihan dan insentif untuk meningkatkan kemampuan dalam pendidikan kedokterandan kesehatan masyarakat
    5. Penelitian: berkaitan dengan manajemen sistem kesehatan (lihat Acuan di butir 1, dan Usabilitydi butir 10 dan 11)
    6. Pelayanan/Pengabdian: pelayanan kesehatan dasar yang prima (lihat Usabilitydibutir 10 dan 11)
    Usability: merupakan upaya institusi pendidikan untuk menjamin agar lulusannya dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai dengan kompetensi yang diperolehnya.
    1. Pekerjaan
      10.1Peluang Kerja : advokasi dan kemitraan untuk tumbuhnya profesi kesehatan yang menjadi prioritas
      10.2Penempatan / penugasan : retensi dan distribusi lulusan sesuai kebutuhan (lihat 1.1 dan 1.2)
      10.3Mutu pelayanan : mempertahankan kompetensi lulusan (lihat 2.4)
      10.4Praktek : meningkatkan kondisi kerja di tingkat pelayanan kesehatan dasar(lihat butir 4, 9, 10)
    2. Dampak
      11.1Kemitraan : bersama pemangku kepentingan memperbaiki manajemen sistem kesehatan
      11.2Imbas pada kesehatan : penurunan risiko dan promosi kesehatan dalam Ruang Lingkupnya (lihat 2.2, 2.3, 4)
      11.3Promosi : diseminasi hasil Usabilityke lembaga pembuat keputusan di tingkat lokal dan nasional

  4. Gambar 3: Conceptual - Production - Usability (CPU)

    Dalam rangka menghasilkan lulusan yang berkualitas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan kompetensi yang diperolehnya, maka program studi bertanggung jawab untuk menyelenggarakan sistem pembelajaran dan pendidikan yang harus mengacu pada konsep profesi kesehatan yang dibutuhkan dan konsep sistem pelayanan kesehatan yang akan memanfaatkannya.

  5. TRUSTWORTHY

    Nilai Operasional ini menuntut agar LAM-PTKespantas dipercaya oleh semua pemangku kepentingan yang meliputi 4 Pilar Utama: institusi/ program studi; organisasi profesi / asosiasi institusi pendidikan; pemerintah; masyarakat pengguna; serta mahasiswa dan masyarakat internasional. Secara ringkasnya, LAM-PTKes bertanggung jawab terhadap segala sumber daya (man, money, dan material)yang diperoleh dari para pemangku kepentingan pada gambar 4 di bawah dalam mewujudkan misi dan visinya.

    Gambar 4: Siklus Akuntabilitas Sistem Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan

    Keterangan:Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
    AIPKI:Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia
    AIPKIND:Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Indonesia
    AIPNI:Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia
    AIPGI:Asosiasi Institusi Pendidikan Gizi Indonesia
    AIPTKMI:Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia
    APTFI:Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia
    IDI:Ikatan Dokter Indonesia
    PDGI:Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia
    IBI:Ikatan Bidan Indonesia
    PPNI:Persatuan Perawat Nasional Indonesia
    PERSAGI:Persatuan Ahli Gizi Indonesia
    IAKMI:Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
    IAI:Ikatan Apoteker Indonesia
    MTKI:Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia
  6. PENDIDIKAN INTERPROFESIONAL SEBAGAI LANDASAN KOLABORASI INTERPROFESIONAL (INTERPROFESSIONALISM)

    Kini sudah tidak cukup lagi bagi tenaga kesehatan untuk sekedar bersikap profesional. Dalam iklim globalisasi seperti saat ini, tenaga kesehatan juga harus bersikap interprofesional.

    Kolaborasi Interprofesional bukan hanya sekedar bersepakat dan berkomunikasi, tetapi lebih merupakan sinergi dan kreasi. Kolaborasi Interprofesional terwujud bila 2 orang atau lebih dari profesi yang berbeda berinteraksi untuk menghasilkan pemahaman bersama yang tidak akan mungkin terjadi jika mereka bekerja sendiri-sendiri. Satu-satunya cara tenaga kesehatan dapat menerapkan Kolaborasi Interprofesional adalah melalui Pendidikan Interprofesional.

    Pendidikan Interprofesional terjadi saat 2 atau lebih profesi saling belajar bersama dari satu sama lain untukmeningkatkan kolaborasi dan mutu pelayanan kesehatan. Pendidikan Interprofesional mencakup semua pembelajaran di lingkungan akademik dan lingkungan kerja sejak sebelum sampai dengan setelah kualifikasi lulusan.

    Pendidikan Interprofesional akan memicu Kolaborasi Interprofesional di fasilitas pelayanan kesehatan sehingga pada akhirnya akan meningkatkan mutu pelayanan di masyarakat sebagaimana terlihat pada Gambar 5.

    Gambar 5: Pendidikan Interprofesional sebagai Pemicu Kolaborasi Interprofesional di Fasilitas Pelayanan Kesehatan


    Pendidikan Interprofesional Kesehatan adalah aplikasi nyata dari 4 Nilai Operasional LAM-PTKeslainnya yaitu: Continuous Quality Improvement (CQI); Quality Cascade; Conceptualization - Production – Usability (CPU); dan Trustworthy

    Kotak 1: Peran LAM-PTKes dalam Interprofesionalisme